| [Politik dan Keamanan] Surat dari Beijing Di Chengdu, Moderenisasi dan Tradisionalisme Saling Dukung
HARI Senin, tanggal 12 Mei sejak pukul 13.00 apartemen kami yang terletak di Jianguomenwai Dajie kedatangan teknisi yang sedang mencari sesuatu yang bocor.
Tiba-tiba sekitar pukul 14.30 saya menerima SMS dari teman yang mengatakan Wah, gempanya menakutkan dan lama yaa. Segera terpikir di benak Aduh, Indonesia kena gempa lagi!
Baru setelah SMS lain masuk, segera saya dengarkan laporan dari CNN.
Apa yang segera terjadi di pikiran saya adalah bagaimana nasib penduduk Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan yang baru kami kunjungi dari tanggal 5 sampai 12 April yang lalu? Tidak disangka bahwa hanya satu bulan yang lalu kami meninggalkan Bandar Udara Chengdu untuk kembali ke Beijing.
Selama satu minggu di Chengdu saya sangat terkesan dengan pembangunan yang dapat disaksikan di sana. Di tengah kota Chengdu, di Tenfu Square terdapat patung besar dari Chairman Mao dan dimana jalan-jalan sekelilingnya dikelilingi oleh toko-toko pakaian/barang mewah seperti Bulgari, Cartier, dan tentu saja rumah makan McDonald dan KFC. Alangkah kontrasnya kalau kita membayangkan bagaimana dahulu Chairman Mao yang menganut paham komunis melawan kaum nasionalis di bawah pimpinan Chiang Kai-shek. Untuk mereka yang tinggal di sini saat ini, paham komunis hanyalah merupakan paham politik; tetapi semua kehidupan lain tidak lagi sesuai dengan apa yang kita bayangkan terdapat dalam masyarakat komunis; bahkan sebaliknya, sangat kapitalistis.
Menurut Lonely Planet, Sichuan adalah intepretasi dari lima elemen yakni air, tanah, kayu, metal, dan api. Disamping itu Sichuan berarti Empat Sungai sebagai tribute atas elemen yang terpenting dalam hidup ini yaitu air. Sedangkan empat mencerminkan jumlah lebih dari 1.000 mata air yang melampaui daerah selatan barat negara China ini.
Sebagai ibu kota dari Sichuan, Chengdu merupakan kota ke lima terbesar dari segi jumlah penduduk yang berjumlah antara 12-13 juta orang.
Semua penerbangan ke Lhasa, Tibet yang terletak si sebelah Barat provinsi ini, umumnya berhenti di Chengdu. Chengdu oleh Lonely Planet digambarkan sebagai The Nations second liveable city.
Memang di Chengdu kita dapat menemukan bangunan-bangunan yang mempunyai karakteristik asli dan sengaja menggunakan arsitek tradisionil dan dibangun dari kayu. Kota ini menjadi saksi sejarah dari bangun dan jatuhnya hampir satu lusin kerajaan-kerajaan atau dinasti sejak ditemukannya pada 316 BC. Yang menjadikan kota ini strategis dari segi politik adalah letak geografis maupun potensi pertanian atau agro yang ada. Bahkan sejak terjadinya gempa, kekhawatiran muncul karena daging babi terbanyak untuk China adalah dari daerah ini.
Bangunan-bangunan dengan arsitek semacam inilah yang juga banyak menarik turis datang dan dimana turis menemukan makanan, pakaian, dan tari-tarian khas dari Provinsi Sichuan. Inilah salah satu daya tarik turisme terbesar.
Sebelum kami pergi ke Sichuan, apa yang saya antisipasi hanyalah masakan pedas lezat yang banyak kita kenal di Indonesia.
Ternyata Sichuan ini juga terkenal karena kuil-kuil untuk kepercayaan Tao, Buddha, museum-museum, pemakaman-pemakaman dari tokoh-tokoh sejarah mereka dan terutama juga adanya tempat untuk reservasi dan riset binatang Panda yang letaknya di Wolon, 10 Km utara dari Chengdu.
Bila pertama kali kita tiba di Chengdu yang terlihat adalah pembangunan luar biasa yakni gedung-gedung bertingkat tinggi maupun jalan raya yang lebar semacam apa yang kita dapati di kota Beijing dan Shanghai.
Seperti halnya dengan kota-kota besar yang lain Chengdu juga sibuk mempersiapkan diri untuk Olimpiade bulan Agustus ini. Karenanya kebersihan kota sangat dijaga disamping adanya trotoar lebar yang memudahkan para pejalan kaki, walaupun adakalanya pengendara sepeda sering juga tidak menurut peraturan sehingga kalau kita berjalan lengah, kemungkinan kita akan ditabraknya.
Yang sangat menarik adalah bagaimana pemerintah daerah memugar dengan sangat baik tempat-tempat bersejarah seperti Wenchu Temple, temple Buddha yang terbesar di Chengdu. Di tempat yang juga masih merupakan biara ini, semua disesuaikan dengan kepercayaan yang dianut, sehingga tempat makan yang ada juga hanya menyajikan makanan vegetarian. Suasana ketenangan dijaga ketat. Tidak terdengar suara keras dari para pengunjung dan beberapa patung dimana pengunjung melakukan sembahyang, dilarang untuk difoto. Bahkan kalau kita masuk juga dibunyikan gong dan semua patung tampak terawat dengan baik dan bersih.
Dengan demikian pengunjung benar-benar dapat meresapi apa itu arti kehidupan dari pandangan Buddha serta dapat mengikuti falsafah atau ajaran yang disampaikan.
Hal yang sama saya temui waktu mengunjungi Green Ram Temple, kuil Taoist yang tertua dan terluas di Chengdu. Menurut cerita Lao-tzu, pendeta tinggi Taoist akan bertemu dengan temannya di sini. Waktu temannya tiba, yang ia temui hanya seorang anak laki-laki dengan dua kambing. Kepercayaan yang diterima adalah bahwa anak laki-laki tersebut adalah Lao-tzu. Karenanya temple ini disebut Ram dan memang banyak patung-patung kambing yang kita dapati di sini. Dari segi aritekturnya, filsafat Taois, yakni "langit itu bulat dan bumi ini persegi digambarkan di tempat ini. Pada malam hari di temple ini dipertunjukkan tarian topeng Sichuan yang sangat terkenal. Sayang kami tidak sempat melihat, tetapi saya banyak menemui anak-anak muda bangsa Barat yang sedang belajar di temple ini.
Begitu kita keluar dari kuil atau biara, dalam beberapa menit kita akan menemukan agama baru; yakni: uang. Di sinilah akan kita dapatkan toko-toko, restoran-restoran, tarian-tarian dan lain-lain yang semua menawarkan dengan harga bersaing. Tetapi tidak banyak penjual barang yang berteriak-teriak atau memanggil turis untuk membeli seperti yang kita temukan di Silk Street di Beijing. Juga jauh berbeda dengan cara asongan kita menawarkan penjualannya di Bali atau Candi Borobudur misalnya. Tawar-menawar merupakan hal yang biasa walaupun di beberapa toko, harga sudah pasti dan tidak dapat ditawar lagi.
Suasana inilah yang terus ada dalam pikiran saya dan seperti mimpi buruk tiba-tiba sekarang semua TV lokal menayangkan korban-korban yang jatuh di Chengdu dan sekitarnya. Kadang saya merasa menyesal mengapa saya harus membeli barang dengan menawar waktu itu?
Sekarang semua masyarakat lokal maupun asing di seluruh negara ini bersatu dan memfokuskan usaha masing-masing untuk mengumpulkan dana bantuan para korban bencana Sichuan.
Saya terharu melihat kerjasama masyarakat Indonesia sektor swasta di Beijing yang dengan gigih mengirim SMS, email dan lain-lain untuk mengumpulkan dana bantuan. Di sini saya sayangkan bahwa kedutaan kita belum mengajak semua kalangan termasuk sektor swasta untuk mengumpulkan dana atas nama Republik Indonesia. Masih terdapat garis jelas antara kedutaan dan swasta.
Akibatnya banyak dari kami yang dengan cara sendiri-sendiri baik melalui gereja masing-masing, Palang Merah bahkan melalui toko buku seperti the Bookworm, kami-kami bergerak sendiri-sendiri. Bahkan minggu depan seorang ibu akan mengadakan charity lunch masakan padang dan akan mengenakan biaya untuk yang datang, tetapi seluruh hasil (tanpa dikurangi biaya masak dan makanan) akan disalurkan ke korban Sichuan. Bukankah hal semacam ini seharusnya diprakasai oleh kedutaan kita?
Di sinilah kesedihan hari nurani sebagai bangsa tumbuh. Kapan kita bangsa Indonesia dapat bersatu seperti apa yang terjadi di negara RRC ini? Rasa nasionalisme dan patriotisme memang langsung terlihat di RRC sekarang karena di manapun mereka berada mereka bersatu untuk mengumpulkan dana bantuan termasuk menyumbang darah, dimana penyumbang harus antre panjang selama hampir satu jam.
Dalam kesedihan dan dalam menghadapi bencana, Rakyat Tiongkok menunjukkan kebesaran dan persatuan berbangsa dan bernegara. Adakala mereka juga langsung menyanyanyikan lagu kebangsaan setelah menolong para korban atau memancangkan bendera.
Sesuatu pelajaran yang harus kita renungkan. Disamping itu potret dan patung Mao, patung Deng dan semua tokoh-tokoh bahkan emperor-emperor mereka yang termasuk/dianggap kejam pun tetap mereka pasang di museum-museum.
Untuk bangsa ini, sejarah adalah sejarah.
Karenanya saya yakin bangsa Tiongkok ini akan terus bertahan dari zaman ke zaman, dari masa ke masa.
Indonesia sudah waktunya mencontoh negara ini dalam hal persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara.(Retnowati Abdulgani-Knapp)
|