![]() |
Sukses dan Arogansi (Success Breeds Arrogance)Writer :Antoni Dio Martin (edited by) received from a Friend. Gontha.com terjemahan dalam bahasa Indonesia untuk dibaca-ditekuni.didalami Sukses & Arogansi
"Success
can lead to
arrogance. When we are arrogant, we quit listening. When we quit
listening,
we stop changing. In today's rapidly moving world, if we quit
changing, we
will ultimately fail." (Sukses bisa membuat
kita jadi arogan. Saat kita
arogan, kita berhenti mendengarkan. Ketika kita
berhenti mendengarkan, kita
berhenti berubah. Dan di dunia yang terus berubah
dengan begitu cepatnya
seperti sekarang, kalau kita berhenti berubah, maka kita
akan gagal).
Itulah sisi negatif dari kesuksesan, yakni arogansi. Arogansi
muncul saat
seseorang merasa diri paling hebat, paling luar biasa, dan paling
baik
dibandingkan dengan yang lainnya. Penyakit mental ini bisa menjangkiti apa
dan
siapa saja, mulai dari organisasi, produk, pemimpin, sampai orang
biasa. Khusus
pada tulisan ini, kita akan membicarakan soal manusianya.
Orang sukses lalu
bersombong ria sebenarnya patut disayangkan. Bayangkan
saja, saat berjuang
keras menggapai kesuksesan, mereka begitu terbuka untuk
belajar. Mereka mau
mendengarkan. Mereka mau berjerih payah, berani hidup
susah, dan mengorbankan
diri. Bahkan, mereka tampak sangat 'merakyat'
hidupnya. Akan tetapi, itu dulu. Sayang
sekali, saat kesuksesan datang,
mereka lupa diri. Mungkin dia akan berkata,
"Saya sudah berhasil mencapai
yang terbaik. Sekarang, Andalah yang harus
mendengarkan saya. Saya tidak
perlu lagi mendengarkan Anda."
Hal itu
diperparah lagi ketika mereka dikelilingi oleh para 'yes man' yang
tidak berani
angkat bicara soal kekurangan orang ini. Hal ini membuat orang
itu semakin
'megalomania' , pongah, angkuh, dan egois. Ia terbelenggu oleh
kesuksesannya
sendiri. Ia tidak pernah belajar lagi.
Saya teringat dengan
seorang klien saya. Sebagai seorang pebisnis, dia
menceritakan susah payahnya
membangun bisnisnya. Cerita yang mengharukan
sekaligus heroik ketika dia harus
tidur di kolong jembatan saat tiba di
Jakarta ketika remaja. Dengan susah payah
dia merangkak dari bawah untuk
bertahan hidup. Menikah tanpa uang
sepeser pun.
Hidup di rumah kontrakan kecil. Akan tetapi, dia tidak patah
arang. Dia
mengamati cara kerja orang sukses, mencontoh, dan memodifikasi
sendiri
produknya. Sekarang, dia pun berjaya. Tiga pabrik besar ada di
genggamannya.
Namun,
sayang sekali. Perusahan itu sedang diterpa badai masalah internal.
Pemicunya tak lain adalah sikap pemimpin yang arogan. Dia otoriter dan
antikritik. "Kalau
saya bisa, kalian juga harus bisa," katanya pongah. Dia
pun menolak
ide-ide baru. Dia mengelola perusahaan dengan serampangan. Turn
over karyawan
pun tinggi. Sisanya hanya kelompok para 'penjilat' yang tidak
berani melawan. Dia menginginkan anak
buahnya di-training. Padahal, dia
sendiri yang perlu up date diri dengan
training.
Arogansi bisa menghampiri siapa saja. Termasuk seorang pendidik,
guru,
dosen, yang tiap hari memberi suatu bagi orang lain. Saat menjalani
kursus
panjang di Inggris, saya pernah mendengar kisah tentang seorang trainer
yang
begitu arogan. Dia sempat membuat banyak orang berdecak kagum.
Buku-buku best
seller pun lahir di tangannya. Akan tetapi, arogansi
membuatnya 'dibuang' dari
komunitas di negaranya. Celakanya, sang trainer
menyalahkan para rekannya. Dia
pun dikelilingi oleh mereka yang selalu
berkata 'ya' padanya.
Dari situ, kita
belajar banyak untuk hati-hati. Kesuksesan
jangan membuat
kita arogan dan cenderung self centered serta tidak mau
mendengarkan orang
lain. Dunia begitu mengenal
sosok Mao, Hitler, ataupun Stalin. Mereka
berjuang dari basis bawah menuju
pucuk kepemimpinan. Mereka pun berjuang
untuk perubahan di masyarakatnya.
Idealisme
mereka sangat luar biasa. Orang pun dibuatnya kagum. Namun,
mereka lupa daratan
ketika sukses. Mereka memonopoli kebenaran tunggal
alias antikritik dan
antipembaruan. Mereka memimpin dengan tangan besi.
Korban pun bergelimpangan
dari tangannya. Begitu juga dalam sejarah bisnis.
IBM yang begitu besar dan
terkenal pernah mengalami kemerosotan saat
arogansi membekap sikap dan pikiran
para pemimpin mereka.
Terjebak retorika
Namun, itulah yang terjadi apabila
orang berhenti belajar dan merasa diri
sudah selesai. Tanpa dia sadari,
lingkungannya terus belajar, berinovasi,
dan berkembang. Sementara, dia mandek
di posisinya. Akibatnya, kue
kesuksesan yang dia peroleh lama-kelamaan menjadi
basi. Tanpa sadar,
kompetitor mereka bergerak jauh meninggalkan
dirinya di
belakang. Mereka terjebak dalam retorika, kalimat, jurus yang
itu-itu saja
alias usang. Arogansi telah menutup hati dan pikirannya untuk
kreatif menemukan
jurus dan tip-tip baru mempertahankan sekaligus
mengembangkan kesuksesannya. Di
sinilah, arogansi berujung pada malapetaka
dan kehancuran.
Jadi, bagaimanakah tipnya agar kesuksesan kita tidak berubah menjadi
arogansi? Saya menyebut tip ini
dengan kata AWAS! Pertama :
Aware (sadar)
dengan sikap dan tingkah
laku kita selalu. Meskipun sudah sukses, kita
perlu memberi waktu untuk
menyadari sikap dan perilaku kita di mata orang
lain. Selalulah sadar apakah
nada dan ucapan serta tindak tanduk kita
sekarang semakin membuat banyak orang
lain terluka? Apakah kita masih tetap
menghargai orang lain? Apalagi
orang-orang yang telah turut membawa Anda ke
level sukses sekarang, apakah Anda
hargai? Jangan sampai, tatkala masih
bersusah payah, kita begitu respek, tetapi
setelah sukses justru
mencampakkan mereka.
Kedua: Waspadai umpan balik
yang hanya menghibur kita tetapi tidak membuat
kita belajar lagi. Hati-hati
dengan orang di sekeliling kita yang hanya
mengatakan hal bagus, tetapi tidak
berani memberikan masukan yang baik.
Kadang, masukan negatif juga kita perlukan
demi perkembangan, sesukses apa
pun kita.
Ketiga: Awasi dan peka dengan perubahan yang terjadi. Dalam buku
Who Moved
My Cheese disimpulkan bahwa kita harus selalu mencium keju kita,
apakah
sudah basi ataukah mulai diambil orang lain. Kita pun harus terus
mencium
dan peka bagaimana orang lain mengembangkan dirinya serta bisa jadi
ancaman
bagi kita. Jangan pula merasa diri paling hebat dan lupa belajar.
Keempat: Sopan dan rendah hati
untuk belajar dari orang lain. Ada banyak
artis yang ketika belum terkenal
sikapnya ramah dan baik. Namun, setelah
sukses, ia menjadi sangat sombong,
angkuh, ketus, dan bersikap antisosial.
Di atas gunung ada awan....
Di atas
awan ada langit....
Di atas langit masih ada langit yang lain....
|
|
Copyright © 2005 Gontha.com, All Rights Reserved |